Penasaran gimana rasanya motor listrik Uwinfly T80C masih termasuk keluaran terbaru, jadi saya coba nyewa punya teman. Body classicnya yang bikin saya tertarik, ada kesan elegant dan berkelas, buat jalan-jalan sekadar keliling santai kayak ada kesan tidak terburu-buru karena kesan dewasanya.

Jadi saya mau share sedikit pengalaman harian menggunakannya, performanya buat harian, termasuk keluhan yang saya kumpulkan.

Review Kelebihan Motor Listrik Uwinfly T80C

Body agak sedikit nostalgia, buat dibawa pergi kerja dalam mode santai di jarak tempuh 20km/jam, maksimal jarak tempuh 60km/jam. Pulang-pergi sudah lebih dari layak dengan daya 250 watt dan kWh 1,2 per sekali pengisian (total pulang dan pergi saya jadi 42km/jam di sertai keliling waktu istirahat), saat pulang dayanya masih ada sisa. Mode full power (mode speed 3) belum dari awal sampai habis belum pernah nyoba, karena niat awal saya memang pengen buat nyantai, jadi cuman sesekali ada pake mode 3. Bisa dikira sendiri lah misal mode santai 60km/jam, anggap aja ada di sekitar 40-50an km/jam.

Power segitu menghabiskan biaya sekitar 1,800an tiap saya ngisi daya.

Bagian mode berkendara ada 3 mode, saat nyoba satu-satu, mode pertama mampu di 27 km/jam udah ga mampu naik lagi, mode dua meningkat naik ke 39 km/jam, dan mode ketiga turun naik 51-52km/jam, yang terakhir ada fitur tambahan berupa mode boost. Ini mode performa paling tinggi, tembus 65 km/jam udah ga mau naik lagi (semua di jalanan datar), cukup buat nyalip di jalanan.

Tiap individu pengendara bakal beda-beda ya kecepatannya, mengingat beban dan berat badan mempengaruhi, jadi mungkin ada yang bakal naik dikit atau turun dikit km/jamnya di tiap mode.

Nanjak bisa dengan beban pengendara total sekitar 120 kiloan (saya dan istri).

Lama pengisianya ke 50% satu jam setengah, masih sesuai dengan iklanya, dan dari 0 ke 100% perlu waktu 3-4 jaman, pengaruh baterai lithium, tidak konstan dari awal sampai akhir. 50% pertama fast charging, seiring daya nambahm kecepetan mulai drop sehingga menyentuh waktu hingga 4jam hingga bahkan 5 jam jika di jam sibuk karena tegangan listirk yang menurun.

Shock bagian depan sudah hidrolik dan berpegas, sudah memenuhi kebutuhan berkendara harian di jalanan menahan beban dan ketika kena lobang atau melewati polisi tidur, hentakan terasa empuk tidak keras masih bawaan pabrikan tidak pernah di setting ulang. Kadang saya naik ojek dapat shock hidrolik berpegas terasa keras dan kaku, mungkin memang di setting buat bawaan beban yang berat.

Remnya menggunakan cakram (disc rotor) dan kaliper seperti motor pendahulunya, mungkin udah jadi standar kebanyakan motor listrik sekarang rem depan menggunakan cakram. Beban motor dan baterai plus boncengan udah sangat memadai rem cakramnya (bagi saya), saat turun tanjakan ketika ditarik sedikit terasa pakemnya.

Bagian shock belakang ada fitur preload buat ngatur kiri kanan shocknya, jadi menyesuaikan keinginan pengguna. Jika berboncengan bisa dibikin sedikit keras, jika sendiri tinggal setting biar agak lembut dan empuk. Mereka mengerti kalau beban di bagian belakang ini bisa berubah-ubah, kalau sudah sesuai dan empuk saat sendiri, kalau berboncengan bisa jadi amblas dan terasa limbung kalau nabrak lubang, kadang masuk perumahan juga ada semin yang dibikin menyerupai polisi tidur, jadi berasa dimanja dengan adanya settingan ini, patut dikasih nilai plus.

Bagian dalam jok seperti ini

Lumayan buat naruh charger masih ada cukup ruang buat yang lainnya.

Kekurangan yang Saya Rasakan

Ada kelebihan, ada juga kekurangan. Biar adil lanjut kita bahas kekurangan motor listrik Uwinfly T80C.

Dari bawah ada injakan kaki, mekanismenya agak aneh menurut saya karena ga terbiasa, ngeluarinnya agak ribet kalau pakai kaki, lebih mudah pakai tangan jadi terasa aneh bagi saya yang terbiasa pakai kaki. Ketika berboncengan akan nyadar dari keluhan yang dibonceng, kalau injakannya terasa agak licin, meskipun sudah dibikin garis-garis biar nggigit, mungkin pengaruh bahannya atau apanya ga tau, diinjak terasa licin.

Lanjut ke atas yaitu stang, komstirnya terasa agak kencang atau keras, ga tau apakah ini bawaan pabrik memang seperti ini atau karena yang nyewain yang nyetting komstirnya dikencangkan terlalu berlebihan, saat belok jadi terasa berat.

Sampai itu saja yang bisa saya sampaikan, unit masih keluaran baru, komplain atau kekurangan masih jarang ya, mengingat baru beberapa bulan sejak perilisannya.

Dari pengalaman saya, Uwinfly T80C cukup memenuhi kebutuhan perjalanan harian sekitar 20 km pulang-pergi. Baterai, kenyamanan, dan performanya terasa memadai untuk rute yang saya lalui, meskipun hasilnya bisa berbeda tergantung berat pengendara, kondisi jalan, dan gaya berkendara.

Mungkin cocok bagi pengguna yang menyukai desain klasik seperti Vespa dan membutuhkan kendaraan dengan biaya operasional rendah, harga baru 9 jutaan (tergantung lokasi, harga bakal beda beda). Sebelum membeli, sebaiknya mencoba langsung dan memeriksa bagian yang menurut saya masih kurang, terutama standar kaki dan komstir yang terasa berat. Unit bekas juga udah tersedia saya liat di marketplace, tetapi kondisi baterai dan komponen utama tetap perlu diperiksa dengan teliti.

meta: Tertarik desain klasiknya, saya menjajal Uwinfly T80C untuk penggunaan harian. Mengeluarkan biaya pengisian sangat murah, performa dan kenyamanan motor ini memang asyik diajak santai.  Beberapa minus, seperti pijakan standar kaki yang licin serta komstir kemudi yang terasa kencang dan berat saat berbelok. Simak cerita jujur pengujian saya selengkapnya sebelum Anda ikut membelinya.